Sabtu, 07 Oktober 2023

Kembalikan Sang Pembimbing Kami

  Ikatan batin antara Syaykh  Panji Gumilang dengan seluruh peserta didik yang ada di AL-Zaytun begitu kuat. Baik peserta didik yang formal maupun Non Formal karena kami semua mendapatkan tunjuk ajar dalam setiap langkah dan kegiatan melaksanakan tugas tanggung jawab kami di Al-Zaytun. Syaykh Al-Zaytun telah memberikan suri tauladan dalam mendidik tanpa ada yang di tutup tutupi baik kepada kami penghuni Ma'had Al-Zaytun maupun kepada siapapun meski itu tamu sekalipun. Rintihan kerinduan dari para penghuni Ma'had akan kembalinya Syaykh tertuan dalam lagu di bawah ini. Semoga dapat mengetuk hati orang-orang yang menyebabkan Syaykh AS Panji Gumilang di tahan sampai dengan hari ini dan segera dapat mengembalikan kepada kami untuk melangsungkan berbagai macam program yang ada di Al-Zaytun untuk turut serta membangun negeri ini meski dengan kekuatan mandiri


.

Rabu, 04 Januari 2017

Tahun baru semangat baru

Tahun 2016 telah berlalu, kini kita menginjakkan kaki ke tahun 2017. Perjalanan ditahun 2016 harus bisa dijadikan sebagai evaluasi untuk menuju yang lebih baik. Jika ditahun 2016 kemarin saya belum membuat program yang jelas , maka di tahun 2017 ini harus membuat program yang jelas agar pencapaiannya lebih mudah. Menulis merupakan kegiatan yang tidak beda dengan berbicara, semakin banyak kita berbicara maka akan semakin cakap pula bahasanya. Membiasakan diri menulis apa yang kita alami akan memudahkan dalam pembentukan karakter tulisan.
Kebiasaan dan pembiasaan itu harus dibangun karena ia tidak akan datang dengan sendirinya jika tidak dibangun. Membangun kebiasaan menulis itu akan terasa berat pada saat belum memulainya. Pada saat kebiasaan itu sudah terbangun maka dengan sendirinya apa yang akanditulis itu akan muncul dihadapan kita seolah-olah mengikuti gerakan tangan kita.
Tahun 2017 merupakan tahun penuh gelora yang mana kita akan menjalaninya dengan penuh semangat pantang menyerah apapun yang terjadi. Tidak ada kemengangan tanpa perjuangan, dan tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan. Dengan selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan kepada kita maka semua pekerjaan terasa ringan. Allah telah memberikan begitu banyak kenikmatan dari mulai bangun pagi sampai tidur lagi tiada pernah bisa kita menghitung nikmat Allah tersebut.
Pada tahap belajar menulis jangan berpikir hasilnya akan istimewa karena dengan hasil yang standarpun itu sudah bagus. Hasil yang istimewa diperoleh jika kita melakukannya secara terus-menerus dengan mengikuti perkembangan yang ada. Menulis harus mengikuti perkembangan kaidah yang ada, tanpa itu rasanya sulit untuk cepat bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Kita bisa belajar dari para penulis senior yang sudah menerbitkan ratusan atau bahkan ribuan buku maupun artikel.
Pada karyanya terdapat banyak sekali contoh –contoh yang bisa dijadikan sebagai referensi tulisan kita. Menulis dan membaca tidak bisa dipisahkan. Orang yang tulisannya bagus pasti dirinya juga pembaca yang baik. Oleh karenanya bisa merasakan bagaimana cara membuat karya tulis yang enak untuk dibaca oleh orang lain. Penulis yang tidak pernah membaca adalah penulis yang egois sehingga tulisan yang dibuatnya terlihat kaku tidak luwes sehingga membuat yang membaca tulisan itu cepat bosan. Apalagi dijaman sekarang ini yang mana dunia internet sudah menjadi kebutuhan setiap orang. Berita sekarang bisa dengan mudah diperoleh melalui internet, Jika kita tidak pandai menulis maka pengunjung blog maupun website kita akan lari.

Membaca memang bisa menambah wawasan namun itu saja belum cukup untuk seorang penulis. Sorang penulis juga harus bisa menggunakan instingnya dengan baik. Insting kita harus selalu diasah agar tidak mengalami ketumpulan. Insting yang tumpul susah mendapatkan ide-ide kreatif saat menulis sehingga cepat mentok dari apa yang ditulisnya. 

Selasa, 20 Desember 2016

Setelah praktek semua jadi benar

Setelah hampir sebulan belajar menulis secara otodidak ada sedikit gambaran tentang cara menulis tersebut. Setidaknya sekarang saya percaya apa yang dikatakan para mentor-mentor penulis itu bahwa yang terpenting dalam belajar menulis adalah praktek , praktek dan praktek. Sebelum memulai menulis banyak sekali hal-hal yang dipikirkan apakah saya bisa apa tidak? Mampu apa tidak? Yah pokoknya macam-macamlah bercampur bawur perasaan menjadi satu.

Karena saya sendiri mempunyai keinginan untuk bisa menulis akhirnya saya praktekan saja apa yang para mentor-mentor itu sampaikan meskipun melalui media internet. Benar setelah praktek baru bisa membandingkan tulisan-tulisan yang telah dibuat dari waktu ke waktu. Ada perbedaan yang sangat menyolok meskipun itu juga belum jelas betul tapi paling tidak sekarang saya tidak ragu-ragu lagi pada saat ingin menulis atau menyampaikan gagasan kepada orang orang lain.

Belajar menulis itu sama seperti belajar naik sepeda, meskipun telah jatuh berulang kali tapi jika dilakukan terus menerus akhirnya pasti bisa naik sepeda. Begitu juga dengan menulis mau seperti apapun tulisan yang dibuat, jangan pedulikan dulu yang penting tulis, tulis dan terus tulis. Bangun kebiasaan dulu baru setelah itu nanti dinilai bagaimana kualitas tulisan yang sudah ditulis.

Kebanyakan pemula termasuk saya pada saat mau mulai menulis sudah memikirkan tulisannya bagus apa tidak, akibatnya mandek dan tidak bisa meneruskan lagi kata-kata apa yang akan ditulis. Menulis sama dengan berbicara, pada saat berbicara kita tidak pernah memikirkan dulu kata-kata apa yang akan keluiar dari mulut kita, meskipun sebenarnya otak kita berpikir sebelum kata-kata itu meluncur dari mulut kita. Akan tetapi karne seringnya kita berbicara sehingga menjadi sangat lancar seolah-olah tidak dipirkan dulu sebelum mengeluarkan kata demi kata.

Jadi prinsipnya jika ingin bisa menulis dengan baik harus sering-sering berlatih bahkan harus dijadikan kebiasaan sebagaimana kita berbicara. Tanpa praktek kita tidak pernah tahu bagaimana cara menulis yang baik. Dengan praktek yang terus menerus pasti akan menemukan trik dan cara tersendiri untuk bisa menulis yang mengalir seperti air sehingga orang yang membaca tulisan kita akan betah berlama-lama bahkan menunggu-nunggu update yang kita tulis.


Jumat, 11 November 2016

Pengertian, Tujuan Dan Manfaat Menulis



Pengertian, Tujuan Dan Manfaat Menulis Menurut Para Ahli 
Keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang dipelajari oleh siswa di sekolah. Melalui keterampilan menulis, siswa dituntut untuk kreatif dan aktif dalam berpikir dan beraktivitas sebanyak mungkin menuangkan ide-ide yang dimilikinya ke dalam bahasa tulis.

Menurut Akhadiah, S. dkk. (1988:2), menulis merupakan suatu proses, yaitu proses penilaian. Ini berarti dalam melakukan kegiatan menulis ada beberapa tahap, yakni tahap prapenulisan, tahap penulisan, dan tahap revisi. Pendapat tersebut menunjukkan bahwa menulis merupakan kegiatan yang mempunyai tahapan.

Sementara itu, menurut Syamsudin (1991:2), dalam arti sederhana menulis itu mencoret-coret dengan alat tulis, dan dalam arti sesungguhnya menulis adalah salah satu jenis keterampilan berbahasa yang dimiliki dan digunakan oleh manusia sebagai alat komunikasi tidak langsung. Pendapat di atas menunjukan bahwa menulis merupakan salah satu cara dalam melakukan komunikasi dengan orang lain tanpa harus saling berhadapan.

Kuswari (2009:28) mengungkapkan menulis merupakan kegiatan yang mengasyikan bahkan menulis bisa disebutkan sebagai kegiatan kreatif yang akan mengantarkan siswa menjadi orang yang sukses di bidang karya tulis. Maksud dari pengertian di atas bahwa dengan mempunyai kemampuan menulis dapat membuat sukses apabila dalam tulisan tersebut mempunyai manfaat untuk dibaca.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003:1219) terdapat pengertian menulis yaitu melahirkan pikiran atau gagasan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan. Menulis merupakan kegiatan yang bisa melahirkan kreativitas seseorang. Dengan demikian, tulisan mempunyai kekuatan yang sangat besar.

Tarigan (2005:15) menjelaskan bahwa menulis ialah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu. Dalam hal ini, menulis merupakan kegiatan menuangkan bahasa lisan atau isyarat menjadi bahasa tulis (grafik) sehingga orang menjadi paham maksud dari apa yang disampaikannya.

Begitu pula menurut Wiyanto (2006:1), menulis adalah mengubah bunyi yang dapat didengar menjadi tanda-tanda yang dilihat, kemudian kegiatan menulis mengungkapkan gagasan secara tertulis. Sebuah bunyi yang terdengar, kemudian diolah oleh pikiran, sehingga bunyi tersebut dapat dijelaskan kembali dalam bentuk tulisan.

Alwasilah (2007:5) menyatakan bahwa menulis justru diawali dengan penggunaan bahasa secara ekspresif dan imajinatif seperti lewat catatan harian. Artinya, keterampilan menulis dapat diperoleh dari kebiasaan menulis. Membiasakan menulis berarti melatih diri menggunakan kosakata dan bahasa kemudian merangkainya, sehingga tercipta kalimat yang baik.

Berdasarkan uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa menulis adalah keterampilan berbahasa yang dimiliki dan digunakan manusia sebagai alat komunikasi secara tidak langsung yang memiliki tahapan dalam proses penulisannya dan menjadikan seseorang mendapat kesuksesan dalam membuat tulisan, proses melukiskan lambang-lambang yang dapat dipahami dan melahirkan pikiran atau gagasan dengan penggunaan bahasa secara ekspresif berdasarkan kreativitas (seperti mengarang, membuat surat).

Tujuan Menulis
Tujuan menulis dapat mewujudkan tujuan yang tidak sederhana. Menurut Tarigan (1994:23), tujuan menulis (the writer’s intention) adalah respons atau jawaban yang diharapkan oleh penulis dari pembaca. Berdasarkan batasan tersebut, maka tujuan menulis meliputi hal-hal berikut:
  1. tulisan yang bertujuan untuk memberitahukan atau mengajarkan disebut wacana informasi (informative discourse);
  2. tulisan yang bertujuan untuk meyakinkan atau mendesak disebut wacana persuasif (persuasive discourse);
  3. tulisan yang bertujuan menghibur atau menyenangkan atau yang mengandung tujuan estetik disebut tulisan literer (wacana kesusastraan atau literary discourse);
  4. tulisan yang mengekspresikan perasaan dan emosi yang kuat dan berapi-api disebut wacana ekspresif (ekspressive diacourse)”.
Dari uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa tujuan seseorang menulis yaitu untuk memberitahukan, meyakinkan, menghibur, dan sebagai ungkapan perasaan melalui sebauah tulisan.

Selanjutnya, Hugo Hartig dalam Tarigan (1994:24) mengemukakan tujuan menulis sebagai berikut:
  1. assigment purpose (tujuan penugasan), yaitu menulis yang dilakukan untuk tujuan menyelesaikan tugas buka atas kemauan sendiri;
  2. altrustic purpose (tujuan altruistik), bertujuan untuk menyenangkan para pembaca, ingin menolong para pembaca memahami, menghargai perasaan dan penalarannya, ingin membuat hidup para pembaca lebih mudah dan menyenangkan dengan karyanya itu;
  3. persuasive purpose (tujuan persuasif), yaitu tulisan yang bertujuan meyakinkan para pembaca akan kebenaran gagasan yang diutarakan;
  4. informational purpose (tujuan informasional, tujuan penerangan), yaitu tulisan yang bertujuan memberi informasi atau keterangan/penerangan kepada para pembaca;
  5. self-ekpresive (tujuan pernyataan diri), yaitu tulisan yang bertujuan memperkenalkan atau menyatakan diri sang pengarang kepada para pembaca;
  6. creative purpose (tujuan kreatif), yaitu tulisan yang bertujuan mencapai nilai-nilai artistic, nilai-nilai kesenian;
  7. problem-solving purpose (tujuan pemecahan masalah), yaitu keinginan penlis untuk memecahkan masalah dengan menjelaskan, menjernihkan, menjelajahi serta meneliti secara cermat pikiran-pikiran dan gagasan sebdiri agar dapat dimengerti dan diterima oleh para pembaca.

Penulis menyimpulkan bahwa pada dasarnya kegiatan menulis dapat memberikan keuntungan bagi penulisnya, diantaranya:
  1. dapat mengenali kemampuan dan potensi diri sampai dimana pengetahuan yang dimiliki;
  2. dapat mengembangkan berbagai gagasan yang menuntut kemampuan penalaran;
  3. dapat memperluas wawasan baik secara teoretis maupun mengenai fakta-fakta yang berhubungan;
  4. dapat mengorganisasikan gagasan secara sistematik serta mengungkap kannya secara tersurat;
  5. dapat meninjau serta menilai gagasan sendiri secara objektif.
Dengan demikian, tujuan menulis dapat mengenali potensi yang ada dalam diri dengan cara mengembangkan berbagai gagasan yang menuntut penalaran yang disusun secara sistematik. Menulis juga dapat menambah wawsan mengenai fakta-fakta yang berhubungan serta menilai gagasan sendiri secara objektif.

Manfaat Menulis
Menulis memiliki peran yang sangat penting bagi manusia yang selalu dituntut untuk bersosialisasi dengan orang lain, banyak manfaat yang bisa diperoleh dari aktivitas menulis. Komaidi (2007:12) menyebutkan beberapa manfaat dari aktivitas menulis sebagai berikut.
  1. Kalau kita ingin menulis pasti menimbulkan rasa ingin tahu (curiocity) dan melatih kepekaan dalam melihat realitas di sekitar. Kepekaan dalam melihat suatu realitas lingkungan itulah yang kadang tidak dimiliki oleh orang yang bukan penulis.
  2. Dengan kegiatan menulis mendorong kita untuk mencari referensi seperti buku, majalah, Koran, jurnal dan sejenisnya. Dengan membaca referensi-referensi tersebut tentu kita akan semakin bertambah wawasan dan pengetahuan kita tentang apa yang akan kita tulis.
  3. Dengan aktivitas menulis, kita terlatih untuk menyusun pemikiran dan argumen kita secara runtut, sistematis dan logis.
  4. Dengan menulis secara psikologis akan mengurangi tingkat ketegangan dan stres kita. Segala uneg-uneg, rasa senang, atau sedih bisa ditumpahkan lewat tulisan di mana dalam tulisan orang bisa bebas menulis tanpa diganggu atau diketahui oleh orang lain.
  5. Dengan menulis di mana hasil tulisan kita dimuat oleh media massa atau diterbitkan oleh suatu penerbit kita akan mendapatkan kepuasan batin karena tulisannya dianggap bermanfaat bagi orang lain, selain itu juga memperoleh honorarium (penghargaan) yang membantu kita secara ekonomi.
  6. Dengan menulis dimana tulisan kita dibaca oleh banyak orang (mungkin puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan) membuat sang penulis semakin popular dan dikenal oleh publik pembaca.
Pendapat di atas menunjukkan bahwa manfaat menulis adalah menimbulkan rasa ingin tahu, mencari referensi, aktivitas menulis, mengurangi tingkat ketegangan dan stres, dan bermanfaat bagi orang lain.

Hal serupa diungkapkan Hernowo (2005:81), manfaat menulis sebagai berikut.
  1. Mengatasi ihwal ketidak tahuan.
  2. Mengelola kepercayaan yang mengekang dan tidak tepat.
  3. Mengendalikan rasa takut.
  4. Memperbaiki perasaan kurang menghargai diri sendidri.
  5. Mengusir rasa gengsi.
  6. Mengatasi ihwal ketidak tahuan.
  7. Mengelola kepercayaan yang mengekang dan tidak tepat.
  8. Mengendalikan rasa takut.
  9. Memperbaiki perasaan kurang menghargai diri sendidri.
  10. Mengusir rasa gengsi.
Manfaat menulis yang diungkapkan Hernowo di atas yaitu mengatasi ketidaktahuan, maksudnya manfaat dari sering menulis sebagai penulis akan mengetahui letak kesalahan dari tulisan yang telah penulis tulis, mengelola kepercayaan yang mengekang dan tidak tepat, mengendalikan rasa takut, memperbaiki perasaan kurang menghargai perasaan diri sendiri dan mengusir rasa gengsi.

Hal yang berbeda diungkapkan Pennebaker dalam Hernowo (2005:54), manfaat menulis sebagai berikut.
  1. Menulis menjernihkan pikiran.
  2. Menulis mengatasi trauma.
  3. Menulis membantu mendapatkan dan mengingat informasi baru.
  4. Menulis membantu memecahkan masalah.
  5. Menulis dengan bebas membantu ketika terpaksa harus menulis.
Manfaat menulis menurut Pennebeker adalah dengan seringnya menulis akan membuat pikiran jernih, mengatasi trauma dituangkan ke dalam tulisan, dengan menulis dapat membantu mendapatkan dan mengingat informasi baru, memecahkan masalah melalui sebuah tulisan karena semua yang ada dalam pikiran dituangkan ke dalam tulisan, dan terakhir manfaat menulis secara bebas dapat membantu ketika terpaksa harus menulis.

Semi (2007:4) berpendapat bahwa manfaat menulis dapat menimbulkan rasa ingin tahu (curiocity) dan melatih kepekaan dalam melihat realitas disekitar lingkungan itulah yang kadang tidak dimiliki oleh orang yang bukan penulis. Seseorang dalam menulis memiliki rasa ingin tahu dan melatih kepekaannya terhadap lingkungan sekitar.

Pendapat lain diemukakan oleh Laksana (2007:10), manfaat menulis dapat menambah wawasan, melatih diri untuk berpikir lebih baik dan memelihara akal sehat, manfaat menulis dapat memberikan kekuatan lisan dan kemahiran menulis dengan gerakan lidah dan penanya. Manfaat menulis menambah wawasan kita untuk berpikir lebih baik dan memelihara akal sehat.

Menurut Syamsudin (2005:3), manfaat menulis dapat membuat kegiatan yang produktif dan ekspresif sehingga tata tulis, struktur bahasa, dan kosakata dapat bermanfaat bagi penulis. Manfaat menulis dapat mamberikan pendapat, ide, dan pikiran melalui hasil tulisan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan menulis memiliki manfaat yang sangat luas. Selain dapat mengenali kemampuan dan potensi diri, menulis merupakan cara menyampaikan pesan berupa pengetahuan, pikiran, peasaan, dan pengalaman kita kepada orang lain. 

Syarat-syarat Menulis
Keterampilan dasar dalam menulis, diperlukan pemahaman tentang hakikat kegiatan menulis yang harus dipunyai dan harus dilalui sebelum dan selama menulis. Tulisan yang baik adalah tulisan yang berisi gagasan atau topik yang mampu menambah pemahaman dan pengetahuan pembaca. Menurut Semi, (2007:42), syarat untuk menghasilkan tulisan yang baik dalam menulis sebaiknya menguasai tiga keterampilan dasar, yaitu.

1) Keterampilan Berbahasa
Menulis merupakan suatu kegiatan memindahkan bahasa lisan ke dalam bentuk tulisan dengan menggunakan lambang-lambang grafem. Oleh sebab itu, tidak mungkin orang akan lancar menulis apabila tidak memiliki keterampilan berbahasa tulis. Keterampilan berbahasa tulis, pada dasarnya sama dengan keterampilan dengan berbahasa lisan karena sama-sama berbentuk pencurahan gagasan dengan menggunakan lambang bahasa. Keterampilan menggunakan bahasa tulis yang dimaksud adalah pemakaian semua unsur bahasa, yaitu: ejaan, kata, ungkapan, kalimat, dan pengembangan paragraf. Semua unsur bahasa ini hendaknya digunakan dengan tepat dan efektif, yang selalu disesuaikan dengan tujuan, isi dan latar belakang pembaca.

2) Keterampilan Penyajian
Keterampilan penyajian adalah keterampilan menyusun gagasan sehingga kelihatan semuanya kompak dan rapi antara yang satu bagian dengan bagian yang lain memperlihatkan kaitan atau hubungan yang harmonis. Pada umumnya penyajian tulisan dapat dibagi dua, yaitu cara deduktif dan cara induktif. Cara deduktif artinya penyajian yang dimulai dari penyampaian gagasan pokok kemudian ulasan dan penjelasan. Sebaliknya, penyajian secara induktif merupakan penyajian yang dimulai dari uraian atau penjelasan kemudian disampaiakan dengan cara yang baik. Cara penyajian tulisan sangat penting dikuasai. Setiap jenis tulisan harus disampaikan dengan cara yang tepat menurut aturan yang berlaku umum.

3) Keterampilan Perwajahan
Keterampilan perwajahan adalah keterampilan menata bentuk fisik sebuah tulisan sehingga sebuah tulisan tersebut elihatan rapih dan indah dipandang mata. Dalam keterampilan perwajahan yang harus diketahui ialah, (1) penataan tifografi, seperti pemakaian huruf yang ukurannya lebih besar, huruf miring, kalimat yang digarisbawahi, dan menata tata muka kulit depan; (2) bagaimana memilih format, ukuran, dan jenis kertas yang tepat. Kedua hal tersebut sangatlah penting. Dalam menentukan bentuk fisik tulisan yang baik dapat dilakukan dengan cara melihat atau berpedoman kepada karya tulis seseorang.

Dengan demikian, penulis dapat menyimpulkan bahwa dalam kegiatan menulis sebaiknya menguasai keterampilan dasar yaitu keterampilan berbahasa, keterampilan penyajian, dan keterampilan perwajahan.


Sumber: http://pengertian-pengertian-info.blogspot.co.id/2015/09/pengertian-tujuan-dan-manfaat-menulis.html